• LUKISAN 3D ANTIK DIJUAL
    Bisnis Sukabumi - Baru Pertama di dunia, sebuah maha karya lahir dari daerah sukabumi
Artikel | Kumpulan Cerita Islam
"Ketika pintu yang satu tertutup, Pintu yang lainnya Allah bukakan"

Bab 4 : lslam Cinta Kebersihan dan Keindahan

Bab 4

lslam Cinta Kebersihan dan Keindahan

Islam sebagai agama yang sempurna menyeru kepada umatnya agar berlaku bersih dan indah secara lahir dan batin. Dalam perkara batin, Islam menganjurkan agar seseorang membersihkan hatinya dari penyakit dengki, iri hati, dan lainnya. Allah berfirman:

                                                                                 
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajir­in dan Anshar), mereka berdo'a: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguh­nya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."
(QS al-Hasyr [59]: 10)

Rasulullah SAW bersabda:


                                                                         
"Janganlah kalian saling dengki, jangan tanajusy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan ja­ngan pula seseorang dari kalian menjual penjualan sau­daranya, serta jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.”



Demikian pula Islam menganjurkan untuk membersihkan lahiri­ah badan seorang muslim. Hal itu dapat kita tengok dari perintah mandi dan berwudhu, anjuran memakai pakaian yang indah ketika hendak pergi ke masjid, anjuran mengerjakan sunnah-sunnah fitrah seperti potong kuku, dan lainnya. Semua ini memberikan keyakinan yang pasti kepada kita bahwa Islam adalah agama yang cinta keber­sihan dan keindahan, bahkan suci dan bersih merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Inilah agama yang sesuai dengan fitrah dan naluri manusia. Karena semua orang yang berjiwa sehat, secara naluri kejiwaannya akan senang dan cinta dengan keindahan dan kebersihan. Sangat banyak bukti-bukti konkret bahwa Islam agama terdepan dalam masalah keindahan dan kebersihan.22­

Etika Berhias Wanita Muslimah

Bab 7
Etika Berhias Wanita Muslimah

Sebelum kita masuk inti pembahasan dan menyebutkan satu per satu perhiasan dan mode kaum wanita, alangkah baiknya terlebih da­hulu kita mengetahui aturan syar'i dalam berhias. Etika dan aturan dalam berhias ini, hanya berupa penjelasan seputar hukum-hukum secara umum bagi wanita muslimah ketika berhias. Baik perhiasan yang batin maupun perhiasan yang tampak dan perhiasan yang bo­leh ditampakkan di hadapan mahramnya maupun kepada yang bu­kan mahram. Aturan apa sajakah yang harus diperhatikan ketika berhias? jawabannya

1. Niat yang Shalih

Niatkan bahwa Anda berhias dan memakai alat kecantikan untuk mencari ridha dan pahala Allah. Mengamalkan perintah Allah dan Rasul serta untuk menyenangkan suami. Jangan sekadar ingin dipuji rang atau hanya ingin tampil lebih percaya diri di hadapan orang banyak Niat ini perlu dihadirkan, agar aktivitas rutin berhias atau berdandan tidak hanya kesenangan dan kebiasaan namun juga berbuah pahala di sisi-Nya. Perhatikanlah!



2. Tidak Berlebihan

Aturan ini penting bagi wanita muslimah. Hendaknya perhiasan yang digunakan tidak berlebihan. Baik dari segi harganya atau dari segi jumlahnya. Sadarilah hal ini wahai wanita muslimah, jangan engkau latah ikut-ikutan membeli baju atau perhiasan yang harganya selangit!! Atau membeli banyak perhiasan sekadar ingin gonta-ganti agar terlihat kaya!! Demikian pula jangan engkau habiskan hartamu hanya untuk membeli alat kosmetik demi tampil beda di hadapan orang lain!! Semua ini terlarang!! Perhatikanlah firman Allah yang berbunyi.

                                                            


"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di seti­ap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan ja­nganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak me­nyukai orang-orang yang berlebih-lebihan". (QS al-A'raf [7]: 31)

Rasulullah SAW bersabda:

                                    

"Makan, minum, bersedekah, dan berpakaianlah, sela­ma tidak berlebihan dan tidak sombong."34



3. Jangan Tabarruj

Boleh bagi seorang wanita muslimah untuk keluar rumah bila ada kebutuhan, akan tetapi tetap memakai pakaian yang syar'i dan tidak tabarruj .35 Allah berfirman:
                       

"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu". (QS al-Ahzab [33]:33)

Qatadah bin Da' amah berkata tentang tafsir ayat ini, "Dahulu kaum wanita biasa berjalan dengan lenggak-Ienggok, maka Allah melarang perbuatan itu."36

Syaikh Abdurrahman as-Sa' di berkata, "Firman-Nya 'Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu' yaitu menetaplah kamu di rumahmu, kare­na hal itu lebih selamat dan lebih menjaga diri kalian. Dan fir­

,man-Nya 'dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu' yaitu janganlah kalian wahai para wanita sering keluar rumah, dengan berhias dan berdandan sebagai­

ana kebiasaan orang jahiliah dahulu, yang mereka tidak punya mu dan agama. Semua ini demi membendung kejelekan dan se­ab-sebabnya. "37

4. Hanya untuk Suami

Karena seorang wanita tidak boleh menampakkan perhiasannya pada lelaki yang bukan mahramnya. Allah berfirman:


"Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali ke­pada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra sua­mi mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra sau­dara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wa­nita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyaagar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS an-Nur [24]: 31)]

Imam as-Sindi berkata, "Wanita yang menyenangkan bila dilihat yai­tu karena kecantikannya yang tampak, atau karena akhlaknya yang

bagus dalam dirinya yang selalu taat serta bertaqwa kepada Allah."38

Perhatikanlah .hal ini wahai wanita muslimah yang mendamba­kan pahala dan ridha Allah. Jangan engkau tampakkan kecantikan

dan perhiasanmu kepada sembarang orang!! Jangan engkau biarkan mata-mata orang fasik menikmati kecantikan pada dirimu!! Berhias­lah dan berpenampilanlah yang menarik di depan suamimu!! Pakai­lah pakaian yang pantas ketika bercengkerama dengannya, jangan hanya pakai baju pas-pasan bekas kerja dan berbau dapur!! Perhati­kan kondisimu dan anak-anakmu, agar rumah tangga yang penuh ke­cintaan dan kasih sayang dapat langgeng terjaga.

Demikian pula kami berwasiat bagi para suami untuk memperha­tikan penampilan di depan istrinya. Memakai pakaian yang rapi dan wangi, melaksanakan tugas sebagai suami dengan baik, dan memper­hatikan hak istri. Insya Allah hal itu dapat menghantarkan kebahagi­aan dalam rumah tangga bagi keduanya dan anak-anaknya. Amin.

5. Bila di Hadapan Sesama Wanita

Perkara ini sangat penting. Kebanyakan wanita merasa bebas me­nampakkan auratnya yang tidak boleh dilihat ketika berkumpul se­sama mereka sendiri. Berdalih bahwa menampakkan aurat bila di ha­dapan wanita tidak mungkin menimbulkan syahwat!! Hal ini jelas keliru dan haram dilakukan karena bertentangan dengan sabda Ra­sulullah SAW yang berbunyi :

"Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki lain. Ti­dak boleh pula wanita melihat aurat wanita lain. "39

Di dalam hadits ini terdapat larangan bagi wanita melihat aurat wa­nita lain. Dan yang namanya "larangan" berkonsekuensi pengharam­an, semua ini menunjukkan haramnya melihat aurat wanita dan apa yang terletak antara pusar dan kedua lutut dari tubuh wanita. 40



6. Tampil Beda?

Sekadar ingin tampil beda dengan memakai perhiasan dan mode yang lain daripada yang lain adalah sifat wanita jahiliah. Pamer dan

suka sanjungan dengan apa yang ada pada dirinya. Apalagi jika dila­kukan di hadapan lelaki asing maka jelas haram. Allah berfirman:

"Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar dike­tahui perhiasan yang mereka sembunyikan". (QS an-Nur [24]: 31)

Dalam ayat yang mulia ini Allah melarang kaum mukminat dari me­niru perbuatan wanita jahiliah. Wanita jahiliah apabila berjalan se­dangkan mereka memakai gelang kaki, dengan sengaja mereka meng­hentakkan kakinya ke tanah agar terdengar suara gelangnya oleh kaum lelaki. Apabila mereka memakai perhiasan yang tidak terlihat, dengan sengaja mereka akan bergerak agar perhiasan yang tidak terli­hat jadi tampak.41

Demikian pula memakai pakaian syuhrah (agar terkenal dan beda) maka haram hukumnya. Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa memakai pakaian syuhrah, maka Allah akan memakaikan padanya pakaian yang menghinakan pada hari Kiamat."42

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitabnya aZ-Gunyah berkata, "Termasuk jenis pakaian yang harus dijauhi dalam setiap berpakaian adalah pakaian yang mencolok agar terkenal di mata manusia, seper­ ti pakaian yang tidak sesuai dengan adat negeri dan keluarganya. Maka semestinya dalam berpakaian adalah sebagaimana manusia umumnya berpakaian, agar dia tidak terkenal hingga orang menun­juknya."43

7. Jangan Meniru lelaki

Termasuk syarat berhias bagi wanita muslimah, hendaknya perhi­asan yang mereka pakai tidak menyerupai perhiasan yang dipakai oleh kaum adam. Ibnu Abbas RA berkata:

"Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai wa­nita dan wanita yang menyerupai laki-Iaki."44

Imam ath-Thabari berkata, "Maksudnya adalah: jangan laki-laki me­nyerupai wanita dalam hal berpakaian dan berhias yang merupakan kekukhus us an me reka, demikian pula sebaliknya. "45

8. Tinggalkan Mode dan Perhiasan yang Haram

Perlu diketahui, bahwa mode dan perhiasan bagi wanita harus mengikuti aturan syar'i, tidak boleh serampangan lepas dari aturan sekalipun niatnya ingin menyenangkan suami. Bahkan tidak boleh memakai mode dan perhiasan yang haram sekalipun atas perintah suami. Untuk lebih jelasnya perhatikan hadits berikut ini:

Aisyah ra berkata, "Ada wanita Anshar menikahkan putrinya, dia menyambung rambut putrinya dengan rambut buatan. Wanita Ans­har tadi menemui Rasulullah SAW, kemudian menceritakan perihal di atas dan berkata, 'Sesungguhnya suaminya itu yang memerintah saya agar menyambung rambutnya.' Nabi ~ berkata, 'Tidak boleh, kare­na Allah telah melaknat wanita-wanita yang menyambung rambut­nya.'"46

9. Jauhi Gaya Mode Orang Kafir dan Fasik

Ini merupakan syarat yang penting. Dengan memahami aturan ini akan terbedakan antara wanita muslimah yang benar-benar niat berhiasnya mencari ridha Allah dengan wanita fasik yang hanya ber­hias mengikuti perkembangan mode masa kini.

Imam Ibnul Qayyim mengatakan, "Allah melarang menyerupai ahli kitab dan selain mereka dari kalangan orang-orang kafir dalam beberapa tempat yang banyak sekali, karena menyerupai mereka da­lam perkara yang lahir (tampak) akan membawa pada penyerupaan

dalam hal batin. Jika mengikuti suatu jalan akan menjadi seperti ja­lan itu, hingga hati akan menyerupai hatinya juga."47

Sadarilah wahai wanita muslimah, perintah berhias adalah perin­tah Allah. Memakai hijab adalah perintah Allah, maka janganlah pe­rintah ini terkotori dengan kemaksiatan!! Jauhilah gaya mode orang kafir dan orang fasik yang tidak mempunyai ilmu dan agama. Jangan engkau terpesona dengan mode yang dipakai peragawati, fotomodel, artis, atau siapa pun jika menyelisihi perintah Allah dan Rasu!!! Ikut­ilah aturan agama dalam berhias, agar engkau selamat, mendapat pa­hala dari Allah bukan siksa-Nya. Amin.

10. Tidak Membahayakan

Islam adalah agama yang membawa kebaikan dan menghilangkan segala bahaya. Ini adalah pokok yang agung dalam syari'at yang mu­lia ini. Rasulullah SAW bersabda:


"Tidak boleh merugikan dan menimpakan kerugian."48



Kaidah ini harus diperhatikan oleh wanita muslimah. Jangan sampai perhiasan, alat-alat kecantikan yang digunakan mengandung bahaya yang merugikan bagi badan. Alih-alih ingin cantik, malah menjadi bumerang bagi badan dengan rusaknya kulit atau anggota badan la­innya. Perhatikanlah hal ini wahai wanita muslimah!!

Inilah beberapa patokan umum seputar etika berhias seorang wa­nita. Sekarang marilah kita masuk pada inti pembahasan buku ini tentang macam-macam perhiasan wanita beserta hukumnya.


Larangan Menampakkan Perhiasan Kepada Laki-Laki Yang Bukan Muhram

Bab 6

Larangan Menampakkan Perhiasan Kepada Laki-Laki yang Bukan Mahram

Islam sangat perhatian dalam mengatur hubungan laki-laki dan wanita. Sehingga Allah membuat undang-undang yang sangat apik dalam mengatur hubungan dua insan yang berlainan jenis ini. Di an­tara undang-undang tersebut adalah seorang wanita muslimah tidak boleh menampakkan perhiasannya kepada laki-laki yang bukan mahram. Berdasarkan ayat al-Qur'an yang berbunyi:                                                    
                                                                   
                                                               

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. dan hendaklah mereka menutup kan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami me­reka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perem­puan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- bu­dak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhdap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar dike­tahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertau­batlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS an-Nur [24]: 31)

Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Firman Allah ‘dan janganlah mereka menampakan perhiasannya,kecuali yang (biasa) tampak daripadanya’ maksudnya adalah janganlah para wanita menampakan sesuatu dari perhiasannya kepada laki-laki asing kecuali sesuatu yang tidak bisa disembunyikan. "27

Ayat yang mulia ini menunjukkan kepada kita bahwa perhiasan wa­nita ada dua macam:
Pertama : Perhiasan yang tampak dan terlihat
Kedua : Perhiasan yang tersembunyi dan tidak terlihat
Berkaitan perhiasan yang tersembunyi dan tidak terlihat, maka per­hiasan ini tidak boleh diperlihatkan kepada orang asing yang bukan mahramnya, seperti perhiasan gelang, kalung, celak mata, an­ting-anting, dan lainnya, karena dengan memperlihatkannya mem­buat orang lain akan melihat bagian tubuh wanita yang terhiasi de­ngan perhiasan ini. Sebagaimana akan kami jelaskan, insya Allah Sementara itu, perhiasan yang tampak dan boleh diperlihatkan kepa­da orang asing yang bukan mahram yang tersebut dalam ayat:
                                                                       
"Kecuali yang (biasa) tampak daripadanya."

Para ulama berselisih tajam tentang perhiasan yang biasa tampak, menjadi dua pendapat28:
Pendapat pertama: Maksud perhiasan yang biasa tampak adalah sesuatu yang terlihat dari badan wanita, seperti wajah29 dan pergelangan tangannya. 30
Pendapat kedua: Maksud dari perhiasan yang biasa tampak ada­lah perhiasan I yang dipakai seorang wanita di luar badannya, seperti busana yang dipakai dan lainnya.31 Walhasil, selayaknya bagi wanita muslimah untuk tidak menam­pakkan perhiasan yang ada pada dirinya, kecuali yang biasa terlihat. Ibnu Athiyyah berkata, "Dan yang tampak bagiku dengan hukum yang tercantum dalam ayat bahwasanya seorang wanita diperintah­kan untuk tidak menampakkan perhiasannya. Hendaknya seorang wanita bersungguh-sungguh untuk menyembunyikan setiap yang di­sebut perhiasan. Dan adanya pengecualian terhadap perhiasan yang biasa tampak posisinya seperti dalam keadaan darurat, maka hal itu dimaafkan. »32
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts