• LUKISAN 3D ANTIK DIJUAL
    Bisnis Sukabumi - Baru Pertama di dunia, sebuah maha karya lahir dari daerah sukabumi
Artikel | Kumpulan Cerita Islam
"Ketika pintu yang satu tertutup, Pintu yang lainnya Allah bukakan"

Tolong Menolong dalam Islam "Ta'awun"

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Tolong Menolong dalam Islam "Ta'awun"


Ta'awun

Pengertian Sikap Taawun

Taawun artinya sikap tolong menolong, bantu-membantu, dan bahu-membahu antara satu dengan yang lain. Taawun juga dapat diartikan sebagai sikap kebersamaan dan rasa saling memiliki dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya, sehingga dapat mewujudkan suatu pergaulan yang harmonis dan rukun.

Dalil Naqli Sikap Taawun

Firman Allah SWT:

وتعاونوا علىالبروالتقوى ولاتعاونوا علىالاثم والعدوان

Artinya: 
" Dan tolong-menolonglah kamu dalam hal mengerjakan kebaikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan." 
(QS. Al Maidah: 2)

Analisis Dalil

Ayat tersebut di atas, menegaskan bahwa sikap tolong-menolong harus ditanamkan dalam setiap sanubari muslim, agar dalam kehidupannya senantiasa terjadi kerukunan dan kedamaian. Sebab dengan sikap tolong-menolong tidak akan ada suatu beban yang dirasakan berat, apalagi perbuatan menolongnya itu dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Perhatikan sabda Rasulullah saw:

من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة (رواه البخرى)

Artinya: 
" Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari satu kesusahan diantara kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah membebaskannya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan di hari kiamat." 
(HR. Bukhari)

Hikmah Sikap Taawun
1. Dapat memiliki banyak teman dan saudara.
2. Dapat menjalin kebersamaan dan kekeluargaan.
3. Mendapat pahala dari Allah.
4. Tercipta kehidupan yang harmonis didalam masyarakat.
5. Merasa hidup lebih bermanfaat.

Syaikh Ahmad Deedat | Sepatu Ajaib

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Syaikh Ahmad Deedat  |  Sepatu Ajaib

Illustrasi
Kisah Sepatu Ajaib (Syiah & Sunni)
Semoga kisah ini menjadi pengalaman yang menjadi teladan dalam menyikapi segala kondisi di akhir zaman ini.
DAHULU pernah terjadi kesepakan antara ulama Syiah dan ulama Sunni untuk mengadakan sebuah diskusi, terkait dengan ajaran Syiah. Tempat dan waktu pun ditentukan. Diskusi dihadiri dan melibatkan tujuh orang ulama dari Sunni dan tujuh ulama dari Syiah.

Selang beberapa hari setelah kesepakatan itu, tepat pada hari dan waktu yang telah ditentukan ulama-ulama syiah pun hadir, lengkap tujuh orang, di dalam sebuah ruangan. Namun, entah karena alasan apa tak satupun ulama dari Sunni muncul. Para ulama Syiah pun menunggu. Setelah lama menunggu, orang yang ditunggu-tunggu tidak muncul-muncul juga, tidak ada tanda-tanda mereka akan datang.

Namun, setelah menunggu lama tiba-tiba masuk seorang masuk dengan sepatu yang ditenteng bawah ketiaknya. Para ulama Syiah pun terheran-heran, lantas bertanya:

“Mengapa kau membawa masuk sepatumu ke ruangan ini?”

Orang yang ditanya lantas menjawab: “Setahu saya, di zaman Rasulullah orang-orang syiah suka mencuri sandal.”

Ulama Syiah pun saling pandang antara satu dengan lainnya dengan pandangan heran. Lalu mereka berkata: “Tapi di zaman Rasul belum ada Syiah.”

“Kalau begitu diskusi kita telah selesai. Dari manakah datangnya ajaran agama kalian kalau di zaman Rasulullah tidak ada Syiah,” Jawab laki-laki itu dengan brilian.

Ternyata orang yang datang membawa sepatu tersebut adalah Syaikh Ahmad Deedat Rahimahullah, penulis buku fenomenal The Choice. 
[Pz/Islampos]

Hormat terhadap Guru, Cermin Akhlaqul Karimah

Kumpulan Cerita ISlam (KCI) : Habib Ali al-Jufri  | Hormat terhadap Guru, Cermin Akhlaqul Karimah
Suatu ketika di musim panas tahun 2009, Habib Ali al-Jufri datang ke Damascus. Beliau memberikan pengajian selama 3 malam di Masjid Agung Bani Umayyah. Tak ayal lagi, para mahasiswa yang tahu berita itu beramai-ramai menuju ke masjid agung itu untuk mendengar nasehat dari sang habib. Itu pertamakali mereka lihat secara langsung Habib Ali al-Jufri.

Semua jamaah dengan khusyuk menyimak apa yang disampaikan oleh Habib Ali al-Jufri. Tiba-tiba dari kejauhan ada suara ramai: “Buka jalan… buka jalan…” Ternyata yang datang adalah guru mereka, Syaikh M. Said Ramadhan al-Buthi.

Melihat Syaikh al-Buthi tiba, Habib Ali al-Jufri pun diam dan turun dari mimbar. “Saya tidak akan berbicara apa-apa lagi kalau guru saya sudah tiba. Beliau lebih berhak berbicara di sini,” kata Habib Ali al-Jufri.

“Saya ke sini ingin mendengar tausiahmu, saya ingin mendapat berkah dari majelis ini, silakan kamu naik mimbar dan teruskan,” kata Syaikh al-Buthi.

Setelah mencium tangan Syaiikh al-Buthi, Habib Ali al-Jufri pun naik kembali ke atas mimbar. Dan Syaikh al-Buthi duduk di samping mimbar di atas kursi.

Lihat, akhlak ulama, saling menghormati antara mereka. Siapa sih Habib Ali al-Jufri dibanding Syaikh al-Buthi? Dari segi umur mereka saja jauh berbeda, mungkin seperti ayah dan anak, kalau tidak mau dikatakan kakek dengan cucu! Tapi Syaikh al-Buthi tahu kapasitas Habib Ali al-Jufri, makanya beliau datang.

Sebenarnya apa sih yang disampaikan Habib Ali al-Jufri, sampai Syaikh al-Buthi datang menghabiskan waktunya? Mungkin isi ceramahnya sudah puluhan tahun lalu dihafal oleh beliau, tapi bukan itu yang beliau cari. Belajarlah dari akhlak ulama, kawan. Rahimallah Syaikh al-Buthi wa amaddallah fi ‘umril Habib Ali al-Jufri. Aamiin. (Diolah darin tulisn Gus Saief Alemdar)

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=598141790276497&set=a.356613851095960.85503.347695735321105&type=1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts